Arti Pernikahan

Sewaktu SMA dulu, setiap hari Jum’at, aku dan teman-temanku selalu mengikuti kegiatan mentoring. Yah..semacam diskusi kecil tentang agama, kadang juga malah jadi tempat curhat. Waktu itu, mbak mentor kami, mbak Nanda, tanya satu persatu tentang cita-cita kita sekarang. Jawaban dari teman-teman beragam, ada yang bercita-cita jadi arsitek, pengusaha, sedangkan aku sendiri menjawab ingin jadi dokter. Dari kesemua jawaban itu, ada satu jawaban yang membuatku terhenyak. Dia menjawab aku ingin menikah, menjadi istri yang solekhah dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Saat itu aku cuma bisa bengong, Haa….Saat itu, sama sekali tidak terpikirkan olehku tentang cita-cita untuk menikah..Yah, maklumlah masih SMA masih banyak yang ingin dikejar..

Pernikahan menurutku sesuatu yang rumit. Di sana, ada dua manusia yang berbeda yang kemudian sepakat untuk hidup bersama. Tapi apakah hanya itu arti pernikahan? Dulu sewaktu duduk dibangku SMA kelas 3, aku sama sekali tidak berniat untuk menikah. Bagiku pernikahan hanyalah akan merugikan wanita. Wanita hanya dijadikan kepuasan seks lelaki semata. Itu saja. Jujur, aku juga agak trauma sewaktu kedua orang tuaku akan bercerai. Tapi bagaimana aku bisa punya anak klo tidak menikah? Padahal aku sekali anak kecil. Setelah aku melihat tayangan disebuah tv swasta, OK aku putuskan aku bisa mempunyai anak lewat bank sperma. Suatu hari, di kelas agama, ada diskusi tentang walimahan (pernikahan). Kemudian aku memberanikan diri bertanya kepada guru agamaku tentang pendapatnya mengenai bank sperma. Kemudian beliau menjawab panjang lebar, yang intinya jika ditinjau dari sisi agama, secara tidak langsung bank sperma sama saja dengan zina. As time goes by, pendapatku tentang pernikahan lambat laun berubah. Memang menikah itu mempunyai resiko. Yah..namanya juga dua orang yang berbeda, masing-masing mempunyai watak dan ego. Justru sekarang aku merasa pernikahan itu suatu yang unik. Pernikahan diibaratkan seperti sebuah bahtera. Kemanapun bahtera itu berjalan, ada saatnya dia berjalan di ombak yang tenang, ada saatnya pula dia harus menghadapi ombak yang besar. Yang terpenting adalah kemudinya. Yakinlah bahwa kemudi itu akan berjalan dengan baik, jika pemberi arah tahu kapan saat dia harus berhenti, kapan saat dia harus berjalan.

Aku sudah berbicara panjang lebar seakan aku tahu pernikahan itu, padahal aku sendiri belum menikah. Yah…setidaknya alasanku sekarang untuk menikah adalah untuk melaksanakan separuh agamaku. Bagaimana dengan anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.