Ketika semester 7 datang, aku dan temanku, tiwi, mengalami keresahan semester terakhir. Hahai..yup, kita sama-sama bingung mencari bahan tugas akhir (TA-red). Karena kita sama-sama orang aljabar, akhirnya kita berdua memutuskan untuk memilih dosen pembimbing yang sama. Setelah meminang calon dosen pembimbing, akhirnya beliau menerima pinangan kita berdua. Alhamdulillah…rencana pertama berhasil.
Oh ya..dalam pinangan tersebut, kita berdua mengadakan kesepakatan. Kesepakatan pertama: kita ingin bahwa tema tugas akhir yang kita kerjakan ingin tentang aljabar linear numerik. Kesepakatan kedua: yang mencarikan bahan tugas adalah dosen pembimbing. Ketiga: ketika bahan sudah ada, dan ternyata kita tidak cocok dengan bahan tersebut, kita diberi kesempatan untuk mencari tema lain dan bahan tugas akhir itu. Setelah bahan tugas akhir tersedia, akhirnya kita berdua memutuskan untuk mempelajari bahan tersebut.
Sebelumnya, aku mau menjelaskan tentang tugas akhir yang dilakukan oleh mahasiswa matematika. Banyak sekali teman-temanku yang dari jurusan lain bertannya apa si yang dilakukan mahasiswa matematika. Apa menemukan rumus? Yeah..banyak yang menduga seperti itu. Persamaan dengan kebanyakan mahasiswa, baik itu ilmu sosial ataupun ilmu pengetahuan alam lainnya adalah kita semua sama-sama meneliti. Menurut saya perbedaanya terletak pada hipotesis. Mahasiswa matematika meneliti tentang bahan tertentu yang belum atau pernah (tetapi kuantitasnya sedikit) diterangkan pada materi perkuliahan. Objek atau bahan penelitian kita bisa buku atau jurnal. Kebanyakan sih buku ataupun jurnal yang kita teliti berbahasa asing (kebanyakan berbahasa inggris). Mungkin seperti ini perbedaanya garisnya. Hipotesis pada matematika berupa teorema. Sedangkan pada ilmu sosial atau ilmu pengetahuan alam lainnya, hipotesis bisa berubah sesuai dengan perilaku objek yang diteliti. Teorema yang sudah ada pada buku atau jurnal biasanya sudah valid. Nah, kita disuruh mengecek kebenaran teorema tersebut melalui pembuktian. Beberapa pembuktian biasanya sudah ada dan beberapa lainnya belum dicantumkan (kemungkinan pembuktian “mudah” sehingga hanya ditulis sebagai exercise atau hanya ditulis it is easy to proof). Pembuktian teorema-teorema biasanya sangat susah (kecuali orangnya pinter banget). Kalau ternyata pembuktian versi kita tidak singkron dengan teorema yang sudah stated, ini yang jadi masalah. Ada dua kemungkinan, the way we think and proof belum bener, atau memang teoremanya yang salah. Teorema salah ekivalen dengan hipotesis salah. Apa iya kita yang masih mengejar gelar S1 bisa merubah teorema? Inilah susahnya.
Ada satu cerita, tentang kakak angkatan yang juga sedang mengerjakan tugas akhir. Ketika pendadaran tiba, ternyata dosen pengujinya mengejar-ngejar dia untuk menjelaskan salah satu teoremanya. Walhasil, ternyata teorema yang dikutip dari jurnal tersebut salah. Akhirnya nilai skripsi yang keluar: B.
…..
Selama satu semester tersebut, kita berdua mencari buku-buku yang relevan dengan materi tersebut. Oh ya, materi yang ditawarkan kepada saya tentang Drazin Inverse, sedangkan tiwi tentang linear preserving idempotent( saya lupa judulnya). Materi yang sangat asing bagi kita. Akhirnya setelah mempelajari, kita memutuskan untuk menyerah karena otak kita tidak sampai menjangkau materi tersebut. Akhirnya dosen pembimbing kita, memberikan opsi kesepakatan nomor tiga. Satu bulan kemudian, secara kebetulan saya menemukan bahan di internet tentang lattice, tiwi juga menemukan buku tentang lattices theory. Singkat cerita, akhirnya memilih tema tentang modular lattices dan saya memilih tema distributive lattices.
….
Semester delapan berlalu. Sekarang masing-masing dari kita, masih sama-sama sibuk mengerjakan bab tiga. Saya bingung tentang dua teorema terakhir, dan tiwi pun bingung dua teorema terakhir. Semoga semester sembilan merupakan semester terakhir bagi kami. Semoga bulan februari 2011, saya(dan tiwi tentunya) bisa menyandang gelar S.Si. Amin..Mohon doa dan bantuannya ya teman..