Sekitar dua minggu lalu aku mengalami hal ini. Iri rasanya melihat rumput tetangga.
Lihat, rumput tetanggamu begitu subur. Gampang sekali tumbuh. Lebih hijau dari rumputku. Rumputnya keliahatan begitu segar, tinggi indah.
Bikin iri saja setiap memandangnya.
Yahh…aku baru saja mengalami semua itu. Ketika temanku satu persatu sudah lulus dan kemudian beberapa pertanyaan menyergapku seketika.
Bagaimana rumputmu?(baca : bagaimana skripsimu?)
Kapan panen?(baca:kapan lulus?)
Jujur saja sejak dari tk-sd-smp-sma, gampang sekali bagiku terutama mendapati bahwa rumputku selalu hijau. Tidak usah terlalu bersusah payah.
Tidak usah ngoyo kalo kata orang jawa. Tinggal baca, liat, dan lakukan. Begitu seterusnya aku menanam, memelihara rumputku. Setelah itu, seperti biasa. Gampang sekali untuk ditebak. Orang-orang di sekitarku, berkata: “Wah..rumputmu indah sekali..Ingin rasanya memiliki rumput seperti itu..”.
Yah seperti itulah. Bahkan aku sendiri, boleh dikata termasuk orang yang jarang berkata:rumputmu indah ya..ingin rasanya memiliki rumput seperti itu.
Dan dua minggu yang lalu baru aku merasakannya. Ketika melihat rumput orang yang lebih indah tanpa sadarpun aku berkata: Rumputmu indah banget…Ingin rasanya
aku memilikinya…Kapan ya bisa punya rumput seindah rumputmu?
Upss….
Lho kok? Kemudian aku bertanya dalam hati. Kok tumben ya aku kayak gini. Apa rumputku kurang hijau? Apa rumputku kurang tinggi? Apa rumputku kurang indah?
Humm….Selang beberapa waktu kemudian, aku bertanya dan mengadu pada sahabat terbaikku perihal rumputku itu. Waktu itu, aku berkata pada sahabatku itu aku marah pada diriku sendiri kenapa aku tidak bisa memiliki rumput seindah temanku.
Kemudian..sahabatku pun berkata:”nisa..tahukah kamu hidup itu dalam istilah jawa hanyalah wang sinawang? Ketika kamu melihat rumput tetanggamu lebih hijau, lebih tinggi, lebih indah, ketika itu pula kamu akan melihat bagaimana sebenarnya keadaan rumputmu. Ingat pula, ketika itu pula kamu akan mendapati bahwa kamu akan selamanya hanya akan
senang melihat rumput tetangga lebih hijau. Itu lah kenapa hidup hanya wang sinawang. Mungkin kalo di translate ke bahasa indonesia: hidup itu hanya saling memandangi rumput tetangga,
Deg….semua perkataan sahabatku itu seakan menamparku sangat keras. Aku tersadar bahwa rumput yang kita tanam berbeda. Mungkin rumput yang ditanam tetanngaku itu jenis rumput yang mudah diatanam.
Sedangkan rumputku?Sepertinya bukan salah satu dari jenis mereka. Kemudian, ketika rumputku dan rumput tetanggaku tumbuh, mengapa rumput tetanggaku lebih gampang tinggi dan gampang sekali tumbuh.
Yah..iya..kalau tidak salah tetanggaku rajin sekali merawatnya hingga tengah malam, memupuknya dengan hati gembira. Sedangkan aku?malas sekali untuk memupuk apalagi merawatnya.
Iya..tidak ada rumput tetangga yang kebetulan hijau. Pasti ada sesuatu didalamnya sehingga selalu saja ketika kita memandanya kita akan berkata:hijaunya rumputmu..indah sekali..aku ingin memiliknya.
Mulai sekarang, aku akan lebih rajin lagi merawat rumput-rumputku. Agar selalu kelihatan hijau.
Tetapi..rumput kuningpun juga terlihat bagus. Agar rumput tidak hanya hijau. Agar hidup juga bisa lebih berwarna lagi.